Comments Off

Sel Hewan dan tumbuhan


.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada awalnya sel digambarkan pada tahun 1665 oleh seorang ilmuwan Inggris Robert Hooke yang telah meneliti irisan tipis gabus melalui mikroskop yang dirancangnya sendiri. Kata sel berasal dari kata latin cellulae yang berarti kamar-kamar kecil. Anton Van Leeuwenhoek melakukan banyak pengamatan terhadap benda-benda dan jasad-jasad renik serta menunjukkan pertama kali pada dunia ada “kehidupan di dunia lain” yang belum pernah dilihat oleh manusia (Amiruddin, 1989).

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi (Campbell, 2002).

Dua orang ilmuwan dari Jerman yaitu Matt Lias Schleiden (ahli tumbuhan, 1804 – 1881) dan Theodor Schwann (ahli hewan, 1810 – 1882) menyimpulkan bahwa setiap makhluk hidup tersusun atas sel. Selanjutnya pada tahun 1885 seorang ilmuwan Jerman, Rudolf Virchow, mengamati bahwa sel dapat membelah diri dan membentuk sel-sel baru (Kimball, 1992).

1.2 Tujuan

- Untuk mengetahui perbedaan ciri pokok antara sel hewan dan sel tumbuhan.

- Untuk mengetahui bagian-bagian sel hewan.

- Untuk mengetahui bagian-bagian sel tumbuhan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Sel

Sel berasal dari kata 'cella' yang berarti ruangan berukuran kecil maka sel merupakan unit (kesatuan, zahrah) terkecil dari makhluk hidup, yang dapat melaksanakan kehidupan (Anonim A,2009).

Ada empat teori tentang sel, yaitu:

- unit struktural terkecil makhluk hidup (Schleiden & T. Schwann)

- unit fungsional terkecil makhluk hidup (Max Schultze)

- unit pertumbuhan terkecil makhluk hidup (Rudolf Virchow)

- unit hereditas terkecil makhluk hidup (Penemuan akhir abad XIX) (Anonim A,2009).

Sel merupakan unit terkecil tubuh makhluk hidup. Baik secara struktural maupun fungsional. Sel terdiri dari membran sel, sitoplasma, nukleus dan organel-organel lain yang masing-masing mempunyai fungsi khusus dan secara terpadu menyusun sistem yang kompak (Tim Biologi, 2004).

Setiap sel bergantung pada sel-sel yang lain untuk melakukan fungsi-fungsi yang tidak dapat dilakukan sendiri contohnya adalah sel saraf dengan cepat meneruskan sinar listrik ke dalam tubuh tetapi bergantung seluruhnya pada sel-sel darah merah untuk memberikan kepadanya oksigen yang amat diperlukannya. Meskipun tipe sel itu bermacam-macam, terdapat persamaan tertentu pada sifat-sifat bentuk dan fungsional yang lazim bagi kebanyakan sel (Kimball, 1992).

Pada umumnya sel itu bersifat mikroskopis, misalnya ovum dari bangsa burung dari beberapa alga. Besarnya dibatasi oleh membran. Suatu sel yang sangat aktif melakukan metabolisme tidak akan mempunyai volume yang besar. Dua bagian yang pokok dari sel adalah sitoplasma dan nukleus. Sitoplasma sebagai suatu zat cair yang kental yang berfungsi bagi sel, mitokondria, badan golgi, kloroplas, sentriol, glanula, dan pigmen (Amiruddin, 1989).

Bagain-bagian sel hewan dan fungsinya

- Membran Sel

Berfungsi untuk mengatur pertukaran zat, sebagai pelindung, tempat menerima rangsang.

- Nukleus

Berfungsi sebagai tempat pengendalian aktivitas sel, tempat AND yang berfungsi sebagai faktor keturunan.

- Retikulum Endoplasma

Berfungsi sebagai sintetis dan transportasi berbagai macam zat kimia.

- Kompleks Golgi

Berfungsi untuk merakit mikro molekul yang kaya karbohidrat.

- Ribosom

Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya sintesa protein.

- Mitokondria

Berfungsi sebagai tempat respirasi aerob.

- Lisosom

Berfungsi sebagai tempat mencerna bahan-bahan dari luar sel dan bahan yang tidak dipakai dari dalam sel.

- Badan Mikro

Berfungsi mengandung enzim katalase dan oksidasi disebut perolisisum, yang mengandung enzim untuk daun asam glioksiat disebut pada tumbuhan.

- Sentrosom

Berfungsi sebagai peran dalam pembelahan sel yaitu pada pergerakan kromatin.

- Sentrio

Berfungsi untuk mengontrol pembentukan benang-benang gelondong selama pembelahan sel (Campbell,2002).

Sel tumbuhan termasuk sel eukariotik. Sel eukariotik adalah sel yang memiliki membran inti (adapula yang menyebutnya sebagai selaput inti). Secara umum, sel tumbuhan memiliki struktur yang sama dengan sel hewan. Tetapi ada beberapa struktur yang secara eksklusif dimiliki tumbuhan, dan adapula struktur yang dimiliki hewan tetapi tidak dimiliki tumbuhan. Beberapa struktur eksklusif itu antara lain adalah:

- Plasmodesmata (tunggal: plasmodesma)

Merupakan pori-pori penghubung yang terletak pada dinding sel. Dengan adanya plasmodesmata, sel tumbuhan dapat berkomunikasi dengan sel lainnya. Selain berperan dalam komunikasi antar sel tumbuhan, plasmodesmata juga berperan dalam transport protein dan RNA duta dari sel ke sel lain.

- Plastida

Plastida dapat berdifferensiasi, salah satunya menjadi kloroplas. Kloroplas memiliki pigmen bernama klorofil, yang menyebabkan warna hijau. Dengan adanya kloroplas ini, tumbuhan mampu berfotosintesis.

- Dinding sel

Bila dilihat lewat mikroskop, sel tumbuhan akan tampak tersusun rapi dan memiliki bentuk tetap. Umumnya berbentuk segi enam. Berbeda dengan hewan, yang bentuknya tidak tetap. Hal ini dikarenakan sel tumbuhan memiliki dinding sel. Dinding sel tumbuhan tersusun dari selulosa, protein dan terkandung lignin (zat kayu).

- Vakuola yang besar

Vakuola pada sel tumbuhan besar. Sementara vakuola pada sel hewan cenderung kecil, bahkan tidak ada. Vakuola ini diselimuti oleh membran tonoplas. Vakuola ini berperan untuk menjaga turgor dan menyimpan cadangan makanan (Kimball,1992).

Selain itu, adapula organel yang dimiliki oleh sel hewan, tetapi tidak dimiliki oleh sel tumbuhan, yaitu sentriol. Sentriol berperan dalam pemisahan kromosom pada tahap anafase. (Anonim A,2009).

Perbedaan Dan Persamaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan

Sel Hewan

- tidak memiliki dinding sel

- tidak memiliki plastid

- memiliki lisosom

- memiliki sentrosom

- timbunan zat berupa lemak dan glikogen

- bentuk tidak tetap

- pada hewan tertentu memiliki vakuola, ukuran kecil, sedikit

Sel Tumbuhan

- memiliki dinding sel dan membran sel

- umumnya memiliki plastid

- tidak memiliki lisosom

- tidak memiliki sentrosom

- timbunan zat berupa pati

- bentuk tetap

- memiliki vakuola ukuran besar, banyak

Tumbuhan memiliki bagian-bagian sel yang membedakan dengan sel hewan. Ciri-ciri utama sel Tumbuhan yaitu adanya dinding sel (tersusun dari selulosa), vakuola yang besar, dan plastida. Sel tumbuhan tidak memiliki sentriol. Sedangkan sel hewan memiliki organel yang khas yaitu sentriol yang berfungsi pada saat pembelahan sel, selain itu pada sel hewan tidak memiliki dinding sel dan plastida, dan pada sel hewan vakuola yang dimilikinya berukuran kecil di banding dengan sel tumbuhan (Anonim A, 2009).

JARINGAN TUMBUHAN

Jaringan dalam biologi adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Sekumpulan jaringan akan membentuk organ. Cabang ilmu biologi yang mempelajari jaringan adalah histologi. Sedangkan cabang ilmu biologi yang mempelajari jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatologi. Jaringan tumbuhan dikategorikan menjadi tiga jaringan, yaitu :

- Jaringan epidermis

Jaringan epidermis Adalah jaringan yang melapisi daun dan bagian tumbuhan yang masih muda. jaringan paling luar yang membungkus tumbuhan.

- Jaringan pengangkut

Komponen utama jaringan pengangkut adalah xilem dan floem. Berperan dalam pengangkutan di dalam tubuh tumbuhan. Xilem atau pembuluh kayu adalah komponen utama pada jaringan pengangkut yang ada pada tumbuhan. Kata xilem diambil dari bahasa Yunani klasik xúlon yang berarti kayu. Xilem bertugas menyalurkan air dan mineral dari akar ke bagian atas tumbuhan yaitu daun. Sel xilem banyak mengandung lignin dan merupakan pembentuk bagian utama dari apa yang kita kenal sebagai kayu. Ada tiga faktor yang menyebabkan air dan mineral dapat naik dari akar ke daun, yaitu tekanan akar, kapilaritas, dan transpirasi. Floem atau pembuluh tapis adalah komponen utama pada jaringan pengangkut yang ada pada tumbuhan. Floem bertugas untuk mengedarkan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan.

- Jaringan penyokong

Berfungsi untuk melakukan fotosintesis, penyimpanan makanan, dan penyokong struktur. Jaringan penyokong meliputi tiga jaringan dasar, yaitu parenkim, kolenkim dan sklerenkim.

Parenkim :

Dinding primer tipis, tidak memiliki dinding sekunder; dapat berkembang menjadi jaringan tumbuhan yang lebih terspesialisasi.

Kolenkim :

Dinding primer yang tebal, bergabung untuk menyokong bagian tumbuhan yang sedang tumbuh.

Sklerenkim :

Dinding sekunder tebal, menyokong bagian tumbuhan yang tidak tumbuh.

(Anonim B,2009).


BAB III

METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1. Alat

- Kaca obyek

- Kaca penutup

- Silet

- Cotton bud

- Pipet tetes

- Mikroskop

3.1.2 Bahan

- Bawang merah (Allium cepa)

- Rhoeo discolor

- Mukosa mulut

- Methilen blue

3.2 Cara kerja

1. Pengamatan sel tumbuhan : Allium cepa dan rhoeo discolor.

- Dikupaslahselaput bawang merah.

- Diletakan selaput tersebut pada kaca obyek.

- Ditetesi dengan air bersih.

- Dilakukan hal yang sama kepada rhoeo discolor,tetapi diambil selaput permukaan bawah daun yang berwarna ungu.

- Ditutuplah dengan kaca penutup,perhatikan,jangan sampai terbentuk gelembung udara.

- Diamati selnya dan dikenali bagian-bagiannya (dinding sel,stoplasma,nucleus,kloroplas,dan stomata).

- Digambar dan disebutkan bagian-bagian yang terlihat.

2. Pengamatan sel hewan : Muklosa mulut.

- Disediakan kaca obyek yang bersih dan kemudian diteteskan air.

- Dikoreklah perlahan-lahan bagian dalam dari pipi saudara dengan menggunakan cotton bud.

- Disentuhkan sedikit material yang menempel pada cotton bud pada setetes air dikaca obyek.

- Ditetesi dengan mathylen blue dan ditutuplah kaca obyek dengan kaca penutup.

- Diamati obyek dengan menggunakan mikroskop dan dikenali bagian-bagiannya(membran sel,sitoplasma,nucleus).

- Digambar dan disebutkan bagian-bagian yang terlihat.


BAB IV

HASIL DAN PENGAMATAN

4.1. Hasil pengamatan

Gambar 1. Mukosa Mulut

Keterangan :

1. Membran sel

2. Nukleus

3. sitoplasma

Gambar 2. Rhoeo discolor

(Preparat : Penampang Melintang Daun )

Keterangan :

1. Nukleus

2. Dinding sel

3. Sitoplasma

4. Stomata

5. Klorofil

Klorofil

Gambar 3. Allium cepa (Umbi Lapis Bawang)

Kesimpulan :

1. Sitoplasma

2. Dinding sel

3. nukleus

4.2 Pembahasan

Pada obyek sel hewan, menggunakan preparat Mukosa Mulut. Dengan perbesaran 40 x 10 = 400x. Dari hasil pengamatan dibawah mikroskop terdapat 3 bagian sel hewan. Membran sel yaitu yang melindungi bagian dalam sel, Inti sel atau disebut nukleus yang gambarnya berupa titik ditengah, dan Sitoplasma bagian diantara membran dan nukleus.

Pada obyek sel tumbuhan, menggunakan 2 preparat. Preparat yang pertama yaitu umbi lapis daun bawang merah ( Allium cepa ). Dengan perbesaran 40 x 10 = 400x. Dari hasil pengamatan dibawah mikroskop terdapat 3 bagian sel tumbuhan. Sitoplasma, nukleus dan dinding sel. Sitoplasma yaitu bagian sebelah dalam dinding sel. Nuklues adalah yang berada di tengah tengah berupa titik.

Preparat yang kedua adalah ( Rhoeo discolor ). Dengan perbesaran 40 x 10 = 400x. Dari hasil pengamatan dibawah mikroskop terdapat 5 bagian sel tumbuhan yang ditemukan. Sitoplasma, Nukleus, dinding sel, stomata, serta klorofil. Pada preparat ini, ditemukan adanya stomata dan klorofil. Karena Rhoeo discolor merupakan tumbuhan hijau, memiliki daun. Sehingga terdapat klorofil dan stomata untuk berlangsungnya fotosintesis. Klorofil adalah zat hijau daun. Untuk membantu proses fotosintesis. Stomata adalah mulut daun. Pada Allium cepa tidak terdapat klorofil dan stomata. Karena bukan tumbuhan hijau, serta tidak memiliki daun. Sehingga tidak ditemukan stomata dan klorofil pada Allium cepa.

Dari hasil percobaan, didapat bahwa perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan yaitu, sel hewan memiliki membran sel, sedankan sel tumbuhan tidak. Sel tumbuhan memiliki dinding sel, sedangkan sel hewan tidak. Vakuola pada sel tumbuhan besar. Sedangkan vakuola pada sel hewan ada, tetapi kecil. Sel hewan tidak memiliki klorofil dan stomata, karena hewan tidak melakukan fotosintesis (Anonim A,2009).

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

- Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan adalah sel hewan memiliki membran sel, sedankan sel tumbuhan tidak. Sel tumbuhan memiliki dinding sel, sedangkan sel hewan tidak. Vakuola pada sel tumbuhan besar. Sedangkan vakuola pada sel hewan ada, tetapi kecil. Sel hewan tidak memiliki klorofil dan stomata, karena hewan tidak melakukan fotosintesis ( Anonim A, 2009).

- Bagain-bagian sel hewan yaitu diantaranya Membran Sel, Nukleus, Retikulum Endoplasma, Kompleks Golgi, Ribosom, Mitokondria, Lisosom, Badan Mikro, Sentrosom, Sentriol (Campbell,2002) .

- Bagian-bagian sel tumbuhan yaitu diantaranya Plasmodesmata (tunggal: plasmodesma), Plastida, Dinding sel, Vakuola yang besar, dan lain sebagainya (Campbell,2002).

5.2 Saran

- Harus benar-benar selaput yang paling tipis yang digunakan untuk diamati dibawah mikroskop.

- Jangan meneterkan metylen blue terlalu banyak.

- Jika kebanyakan metylen blue yang tertetesi, resepkan pada tisu.

- Perbesaran harus tepat, agar dapat mengamati bagian-bagian sel dengan jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim A. 2009. Sel hewan dan tumbuhan. http://id.wikipedia.org/wiki/Sel hewan dan tumbuhan. 27 November 2009.

Anonim B. 2009. Jaringan. http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan. 26 November 2009.

Amiruddin. 1989. Biologi. Erlangga : Jakarta

Campbell. 2002. Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta

Kimball . 1992. Biologi Universitas. Erlangga : Jakarta

Tim Biologi. 2004. Biologi. Andi : Yogya

Comments Off

Laporan Mikroskop


.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring berkembangnya zaman, berkembang pulalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat. Termasuk dalam bidang science. Dewasa ini, telah banyak ditemukan berbagai alat optik yang dapat membantu manusia mempermudah melakukan berbagai kegiatannya. Salah satunya yang sudah tidak asing lagi yaitu mikroskop (anonim,2009).

Mikroskop merupakan alat bamtu utama dalam melakukan pengamatan dan penelitian dalam bidang biologi, karena dapat digunakan untuk mempelajari struktur benda-benda yang kecil. Ada 2 macam mikroskop, yaitu mikroskop optic dan mikroskop electron. Mikroskop optic yang sering digunakan adalah mikroskop biologi dan mikroskop stereo. Salah satu pengukur objek miskroskopis adalah mikrometer. Ada 2 macam mikrometer yaitu mikrometer objektif dan mikrometer okuler. Alat ini dapat berfungsi apabila dipakai bersama-sama dengan mikroskop (Wikipedia,2009).

Sedangkan mahasiswa sendiri tidak semuanya mengerti tentang permasalahan diatas. Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa mengetahui macam-macam mikroskop, bagaian-bagain mikroskop dan fungsinya serta hal-hal lain yang berhubungan dengan mikroskop itu sendiri.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan Percobaan yaitu sebagai berikut :

- Mengetahui definisi alat mikroskop

- Mengetahui macam-macam mikroskop

- Mengetahui sifat-sifat banyangan pada mikroskop

- Mengenal cara penggunaan mikroskop


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Mikroskop berasal dari bahasa Yunani micron yang artinya kecil dan scopos yang artinya tujuan adalah sebuah alat untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata. Kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah dilihat dengan mata (Anonim,2009).

Antony Van Leuwenhoek orang yang pertama kali menggunakan mikroskop walaupun dalam bentuk sederhana pada bidang mikrobiologi. Kemudian pada tahun 1600 Hans dan Z Jansen telah menemukan mikroskop yang lebih maju dengan nama mikroskop ganda. Mikroskop berasal dari kata mikro yang berarti kecil dan scopium (penglihatan). Mikroskop adalah suatu benda yang berguna untuk memberikan bayangan yang diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang. Mikroskop terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi tersendiri (Volk dan Wheeler, 1988).

Mikroskop pada prinsipnya terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar, yang disebut gagang putar. Setiap lensa objektif dapat diputar ke tempat yang sesuai dengan perbesaran yang diinginkan. Sistem lensa objektif memberikan perbesaran mula-mula dan menghasilkan bayangan nyata yang kemudian diproyeksikan ke atas lensa okuler. Bayangan nyata tadi diperbesar oleh okuler untuk menghasilkan bayangan maya yang kita lihat. Kebanyakkan mikroskop laboratorium dilengkapi dengan tiga lensa objektif : lensa 16 mm, berkekuatan rendah (10 X); lensa 4 mm, berkekuatan kering tinggi (40-45X); dan lensa celup minyak 1,8 mm (97-100X). Objektif celup minyak memberikan perbesaran tertinggi dari ketiganya. Lensa okuler terletak pada ujung atas mikroskop, terdekat dengan mata. Lensa okuler biasanya mempunyai perbesaran: 5X, 10X, 12,5X dan 15X. Lensa okuler terdiri dari lensa plankonveks yaitu lensa kolektif dan lensa mata (Volk dan Wheeler, 1988).

Struktur mikroskop terdiri dari dua bagian utama yang umumnya menyusun mikroskop, yaitu Bagian optik. Yang terdiri dari kondensor, lensa objektif, dan lensa okuler. Serta bagian non-optik, Yang terdiri dari kaki dan lengan mikroskop, diafragma, meja objek, pemutar halus dan kasar, penjepit kaca objek, dan sumber cahaya. Sifat bayangan pada mikroskop di tentukan pada 2 lensa, yaitu lensa objekif dan lensa okuler. Lensa objektif mempunyai sifat bayangan maya, terbalik dan diperkecil. Sedngkan lensa okuler mempunyai sifat bayangan nyata, tegak dan diperbesar. Benda yang diamati diletakkan sedekat mungkin dengan titik fkus lensa objektif. Sedangkan mata kita tepat berada I lensa okuler. Mata pengamat berda dibelakang lensa objektif yang kebetulan bayangan dari okule tepat di titik focus ensa okuler dinamakan pegamat secara rilks dan pengamatan dilakukan secara terakomendasi bila bayangan objektif berada diruang utama okuler. Mikroskop yang terdiri dari lensa positif bayangan akhir barada jauh tak terhingga, yang memiliki sifat bayangan diperbesar, maya dan tegak (Anonim,2009).

Jenis paling umum dari mikroskop dan yang pertama diciptakan adalah mikroskop optis. Mikroskop ini merupakan alat optik yang terdiri dari satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah benda yang ditaruh di bidang fokal dari lensa tersebut. Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibagi menjadi dua, yaitu, mikroskop cahaya dan mikroskop elektron. Mikroskop cahaya sendiri dibagi lagi menjadi dua kelompok besar, yaitu berdasarkan kegiatan pengamatan dan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan. Berdasarkan kegiatan pengamatannya, mikroskop cahaya dibedakan menjadi mikroskop diseksi untuk mengamati bagian permukaan dan mikroskop monokuler dan binokuler untuk mengamati bagian dalam sel. Mikroskop monokuler merupakan mikroskop yang hanya memiliki 1 lensa okuler dan binokuler memiliki 2 lensa okuler (Anonim,2009).

Mikroskop cahaya memiliki perbesaran maksimal 1000 kali. Mikroskop memeiliki kaki yang berat dan kokoh agar dapat berdiri dengan stabil. Mikroskop cahaya memiliki tiga dimensi lensa yaitu lensa objektif, lensa okuler dan lensa kondensor. Lensa objektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop.Lensa okuler pada mikroskop bisa membentuk bayangan tunggal (monokuler) atau ganda (binikuler). Pada ujung bawah mikroskop terdapat dudukan lensa obektif yang bisa dipasangi tiga lensa atau lebih. Di bawah tabung mikroskop terdapat meja mikroskop yang merupakan tempat preparat. Sistem lensa yang ketiga adalah kondensor. Kondensor berperan untuk menerangi objek dan lensa mikroskop yang lain. Pada mikroskop konvensional, sumber cahaya masih barasal dari sinar matahari yang dipantulkan oleh suatu cermin datar ataupun cekung yang terdapat dibawah kondensor. Cermin in akan mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor. Pada mikroskop modern sudah dilengkapi lampu sebagai pengganti cahaya matahari. Lensa objektif bekerja dalam pembentukan bayangan pertama. Lensa ini menentukan struktur dan bagian renik yang akan menentukan daya pisah specimen, sehingga mampu menunjukkan struktur renik yang berdekatan sebagai dua benda yang terpisah.Lensa okuler, merupakan lensa likrskop yang terdapat dibagian ujung atas tabung, berdekatan dengan mata pengamat. Lensa ini berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif. Perbesaran bayangan yang terbentuk berkisar antara 4-25 kali. Lensa kondensor berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada objek yang akan difokus, sehinga pengaturannya tepat akan diperoleh daya pisah maksimal, dua benda menjadi satu. Perbesaran akan kurang bermanfaat jika daya pisah mikroskop kurang baik (Anonim,2009).

Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop stereo memiliki perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang diamati dengan mikroskop ini dapat dilihat secara 3 dimensi. Komponen utama mikroskop stereo hampir sama dengan mikroskop cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa objektif. Beberapa perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah: (1) ruang ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati, (2) sumber cahaya berasal dari atas sehingga objek yang tebal dapat diamati. Perbesaran lensa okuler biasannya 3 kali, sehingga perbesaran objek total minimal 30 kali. Pada bagian bawah mikroskop terdapat meja preparat. Pada daerah dekat lenda objektif terdapat lampu yang dihubungkan dengan transformator. Pengaturan fokus objek terletak disamping tangkai mikroskop, sedangkan pengaturan perbesaran terletak diatas pengatur fokus (Anonim,2009).

Mikroskop Elektron adalah sebuah mikroskop yang mampu melakuakan perbesaran obyek sampai dua juta kali, yang menggunakan elektrostatik dan elektro maknetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan perbesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus dari pada mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi elektro maknetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya. Macam –macam mikroskop elektron:

1. Mikroskop transmisi elektron (TEM)

2. Mikroskop pemindai transmisi elektron (STEM)

3. Mikroskop pemindai electron

4. Mikroskop pemindai lingkungan electron (ESEM)

5. Mikroskop refleksi elektron (REM) (Anonim,2009).

Mikroskop Ultraviolet merupakan suatu variasi dari mikroskop cahaya biasa adalah mikroskop ultraviolet. Karena cahaaya ultraviolet memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dari pada cahaya yang dapat dilihat, penggunaan cahaya ultra violet untuk pencahayaan dapat meningkatkan daya pisah menjadi 2 kali lipat daripada mikroskop biasa. Batas daya pisah lalu menjadium. Karena cahaya ultra violet tak dapat dilihat oleh mata manusia, bayangan benda harus direkam pada piringan peka cahaya (Photografi Plate). Mikroskop ini menggunakan lensa kuasa, dan mikroskop ini terlalu rumit serta mahal untuk dalam pekerjaan sehari-hari (Volk dan Wheeler, 1988).

Mikroskop Pender (Flourenscence Microscope) adalah Mikroskop pender yang dapat digunakan untuk mendeteksi benda asing atau Antigen (seperti bakteri, ricketsia, atau virus) dalam jaringan. Dalam teknk ini protein anti bodi yang khas mula-mula dipisahkan dari serum tempat terjadinya rangkaian atau dikonjungsi dengan pewarna pendar. Karena reaksi Antibodi-Antigen itu bersifat khas, maka peristiwa pendar akan terjadi apabila antigen yang dimaksud ada dan dilihat oleh antibodi yang ditandai dengan pewarna pendar. Mikroskop medan gelap digunakan untuk mengamati bakteri hidup khususnya bakteri yang begitu tipis yang hampir mendekati batas daya mikroskop majemuk. Mikroskop medan-Gelap berbeda dengan mikroskop cahaya majemuk biasa hanya dalam hal adanya kondensor khusus yang dapat membentuk kerucut hampa berkas cahaya yang dapat dilihat. Berkas cahaya dari kerucut hampa ini dipantulkan dengan sudut yang lebih kecil dari bagian atas gelas preparat (Volk dan Wheeler, 1988).

Mikroskop Fase kontras, cara ideal untuk mengamati benda hidup adalah dalam keadaan alamiahnya : tidak diberi warna dalam keadan hidup, namun pada galibnya fragma benda hidup yang mikroskopik (jaringan hewan atau bakteri) tembus cahaya sehingga pada masing-masing tincram tak akan teramati, kesulitan ini dapat diatasi dengan menggunakan mikroskop fase kontras. Prinsip alat ini sangat rumit.. apabila mikroskop biasa digunakan nuklus sel hidup yang tidak diwarnai dan tidak dapat dilihat, walaupun begitu karena nukleus dalam sel, nukleus ini mengubah sedikit hubungan cahaya yang melalui materi sekitar inti. Hubungan ini tidak dapat ditangkap oleh mata manusia disebut fase. Namun suatu susunan filter dan diafragma pada mikroskop fase kontras akan mengubah perbedaan fase ini menjadi perbedaan dalam terang yaitu daerah-daerah terang dan bayangan yang dapat ditangkap oleh mata dengan demikian nukleus (dan unsur lain) yang sejauh ini tak dapat dilihat menjadi dapat dilihat (Volk dan Wheeler, 1988).

Cara menggunakan Mikroskop, yaitu sebagai berikut ;

a. Menyiapkan Mikroskop

1. Bersihkan dan keringkan tangan terlebih dahulu

2. Ambil mikroskop dari kotak penyimpanan dengan cara memegang lengan mikroskop dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri menyangga bagian dasar mikroskop

3. Letakkan mikroskop di atas meja yang datar dengan bagian lengan mikroskop berada di depan kita. Bila dibutuhkan, miringkan tidak lebih dari 300.

4. Periksa dahulu apakah semua bagian-bagiannya lengkap ( apakah ada bagian yang lepas, longgar atau pecah )

b. Mengatur Penyinaran atau Cahaya

1. Putar revoler atau pengatur fokus hingga terdengar “klik” agar lensa objektif yang paling lemah (4x) tepat berada di tengah meja benda.

2. Naikkan kondesor sampai batas atas.

3. Buka diafragma semaksimal mungkin.

4. Turunkan tabung dengan memutar pengatur makrometer sampai batas terbawah.

5. Arahkan cermin ke arah datangnya cahaya. Jika dilihat dari samping, di tengah meja benda terdapat bulatan cahaya tepat di kondesor. Jika dilihat dari lensa okuler akan tampak bidang pandang (bidang optik) seterang sumber cahaya.

c. Mengatur Lensa Objektif untuk Mengamati Objek

1. Ambil benda yang akan diamati.

2. Jepit benda tersebut dengan menggunakan penjepit.

3. Aturlah perbesarannya. Mulai dari perbesaraan yang paling lemah. Atur pengatur fokus atau revoler sehingga tampak benda yang diamati. Pada saat mengatur fokus jangan sampai lensa objektif menekan gelas benda. Hal tersebut dapat memecahkan gelas benda, bahkan lensa itu sendiri (Anonim,2009).


BAB III

METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

- Mikroskop Biologi

- Kaca obyek

- Kaca penutup obyek

3.1.2 Bahan

- Potongan kertas “A”

- Potongan kertas “a”

3.2 Cara Kerja

- Diletakkan potongan kertas berhuruf “A” pada kaca obyek dan tutup dengan kaca penutup.

- Diamati dengan perbesaran lema ( 4 x 10 ).

- Diamati apakah bayangan benda sama atau terbalik dan gambarkan.

- Sambil memandang ke dalam lensa okuler, digeser preparat dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Diamati kemana bayangan bergerak.

- diubahlah lensa obyektif ke perbesaran yang lebih kuat. Diamati apakah ada perubahan luas bidang pandang.

- Berapa diameter bidang pandang mikroskop pada obyektif (mm) dan berapa pada obyektif kuat.

- Kerjakan seperti langkah nomor 1-3 namun, dengan menggunakan potongan kertas berhuruf “a”.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil Pengamatan

Gambar 1. Dengan Perbesaran 4 x 10 = 40x

Gambar 2. Dengan Perbesaran 40 x 10 = 400x

1.2 Pembahasan

Pada obyek satu, kertas dengan huruf “A” diletakkan diatas preparat dengan perbesaran 4 x 10 sama dengan 40 x perbesaran. Ternyata hasil yang diperoleh terlihat bahwa posisi “A” menjadi terbalik (seperti pada gambar di hasil pengamatan). Selain itu, huruf “A” menjadi lebih besar. Terlihat serat-serat tinta yang membentuk huruf “A”. Hal tersebut dikarenakan bahwa sifat bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif dengan perbesaran 40 x adalah maya, terbalik dan diperbesar. Selain itu, dalam percobaan ini, kita juga dapat menghitung jarak kaki dalam huruf “A” dibawah lensa obyektif. Didapat jarak kaki huruf “A” setelah perbesaran 40 x adalah 4 mm (Anonim2009).

Pada obyek dua, kertas dengan huruf “A” diletakkan diatas preparat dengan perbesaran 40 x 10 sama dengan 400 x perbesaran. Ternyata hasil yang diperolah terlihat bahwa posisi “A” menjadi terbalik, tetapi tidak seutuhnya terlihat. Hanya menunjukan satu sisi saja (seperti pada gambar 2 dalam hasil pengamatan) , dikarenakan menggunakan perbesaran yang paling kuat. Selain itu, diperoleh pula banyangan yang lebih besar sehingga lebih terlihat pada gambar yaitu serat-serat tinta pembentuk huruf tersebut. Hal ini juga terjadi dikarenakan sifat yang dibentuk oleh lensa obyektif adalah maya, terbalik dan diperbesar (Anonim,2009).

Mikroskop dapat membantu kita melihat benda-benda yang sangat kecil sehingga dapat terlihat oleh kita, itulah fungsi utamanya. Mikroskop cahaya dan mikroskop elektron memiliki manfaat yang sangat penting. Mikroskop telah digunakan dalam bidang kedokteran, ilmu forensik ( untuk menyelidiki sidik jari ), geologi ( untuk meneliti batuan ), industri ( untuk menguji ketahanan suatu benda ), serta dalam bidang makanan dan lingkungan (untuk menyelidiki bakteri beracun dalam makanan) (Anonim,2009).

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa ;

- Mikroskop adalah sebuah alat untuk melihat obyek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang.

- Mikoroskop dibedakan menjadi dua macam yaitu mikroskop optik dan mikroskop elektron. Mikroskop optik sendiri dibagi dua yaitu mikroskop biologi dan mikroskop stereo.

- Sifat-sifat bayangan pada mikroskop adalah maya, terbalik dan diperbesar.

- Cara menggunakan mikroskop secara singkat yaitu diletakkan obyek di preparat, kemudian amati dibawah mikroskop dan atur perbesarannya sesuai keinginan.

5.2 Saran

- Lebih terampil memakai mikroskop biologi yang digunakan.

- Lebih bervariasi obyek yang akan diamati.

- Gunakan revolver untuk memutar lensa obyektif, karena jika memutarnya dengan memegang batang lensanya, maka lensa tersebut bisa terlepas, patah, atau rusak.

- Aturlah penerangan cahaya sebaik mungkin, agar obyeknya terlihat dengan jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Mikroskop. http://id.wikipedia.org/wiki/Genetika.25/11/2009

Saktiyono. 2000. IPA Biologi. Esis: Jakarta

Volk dan Wheeler. 1988. Mikrobiologi dasar. Erlangga: Jakarta