Comments Off

Laporan Difusi


.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring berkembangnya zaman, berkembang pulalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat. Termasuk dalam bidang science. Dewasa ini, telah banyak ditemukan teori-teori baru yang dapat membantu manusia mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya. Salah satunya adalah teori tentang difusi. Difusi merupakan peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Proses difusi terjadi didalam proses metabolisme. Metabolisme pada organisme multi seluler meliputi banyak hal diantaranya transpor materi dan energi (Anonim,2009).

Untuk memahami proses difusi pada organisme hidup dan faktor apa saja yang mempengaruhinya dilakukanlah percobaan ini, yaitu tentang difusi.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan Percobaan yaitu sebagai berikut :

- Mengetahui definisi difusi.

- Mengetahui proses difusi pada organisme hidup

- faktor yang mempengaruhi difusi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida. Difusi dan osmosis adalah termasuk transport pasif artinya transport yang tidak memerlukan energi (ATP) (Anonim A,2009).

Dalam mengambil zat-zat nutrisi yang penting dan mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan, sel melakukan berbagai jenis aktivitas, dan salah satunya adalah difusi. Ada dua jenis difusi yang dilakukan, yaitu difusi biasa dan difusi khusus. Difusi biasa terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophobic atau tidak berpolar / berkutub. Molekul dapat langsung berdifusi ke dalam membran plasma yang terbuat dari phospholipids. Difusi seperti ini tidak memerlukan energi atau ATP (Adenosine Tri-Phosphate). Difusi khusus terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophilic atau berpolar dan ion. Difusi seperti ini memerlukan protein khusus yang memberikan jalur kepada partikel-partikel tersebut ataupun membantu dalam perpindahan partikel. Hal ini dilakukan karena partikel-partikel tersebut tidak dapat melewati membran plasma dengan mudah. Protein-protein yang turut campur dalam difusi khusus ini biasanya berfungsi untuk spesifik partikel (Anonim B,2009).

Difusi merupakan usaha untuk meniadakan beda kadar antara dua larutan yang berbatasan tanpa adanya dinding pemisah. Pada akhirnya difusi kedua larutan akan bercampur menjadi larutan yang homogen (Anonim B,2009).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi, yaitu :

1. Ukuran partikel

Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin tinggi.

2. Ketebalan membran.

Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan difusi.

3. Luas suatu area.

Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya.

4. Jarak.

Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya.

5. Suhu.

Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.

6. Jumlah eryth/kadar Hb

7. Perbedaan tekanan dan konsentrasi gas

8. Waktu difusi

9. Afinitas gas

(Anonim A dan Anonim B, 2009).

Metabolisme pada organisme multi seluler meliputi banyak hal diantaranya transpor materi dan energi. Sistem transportasi sangat penting bagi tumbuhan dan hewan yang berkaitan dengan massa organisme. Pada tumbuhan dan hewan yang masih sederhana atau belum memiliki struktur organisme rumit, transpot materi (nutrien dan zat hara) dan hasil metabolisme cukup dari sel ke sel. Transportasi tersebut dapat berlangsung secara aktif maupun pasif. Transportasi pasif berlangsung antara lain secara osmosis. Protoplasma sel mempunyai plasma ( pada tumbuhan ) atau selaput sel (pada hewan) yang mampu mengatur secara selektifaliran cairan dari lingkungan suatu sel ke dalam sel atau sebaliknya. Terdapat dua proses fisiokimia yang penting yaitu difusi dan osmosis (Volk dan Wheeler, 1988).

Sistem reaksi-difusi adalah model matematika yang mendeskripsikan bagaimana konsentrasi dari satu atau lebih substansi terdistribusi dalam ruang berubah karena pengaruh dua proses: reaksi kimia lokal dimana substansi diubah menjadi yang lain, dan difusi yang menyebabkan substansi menyebar dalam ruang. Sebagaimana deskripsi ini mengimplikasikan, sistem reaksi-difusi secara alami diterapkan di kimia. Akan tetapi, persamaan reaksi-difusi dapat juga mendeskripsikan proses dinamis non-kimiawi. Contoh-contoh ditemukan di biologi, geologi dan fisika serta ekologi. Secara matematis, sistem reaksi-difusi memiliki bentuk semi-linier persamaan diferensial parsial parabola. Persamaan tersebut dapat direpresentasi dalam bentuk umum :

\partial_t \boldsymbol{q} = \underline{\boldsymbol{D}} \Delta \boldsymbol{q} + \boldsymbol{R}(\boldsymbol{q}),

dimana masing-masing komponen vektor q(x,t) mewakili konsentrasi dari satu substansi \underline{\boldsymbol{D}}adalah matriks diagonal koefisien difusi dan R memperhitungkan seluruh reaksi lokal. Solusi persamaan reaksi-difusi menunjukkan jangkauan yang luas perilaku, mencangkup pembentukan gelombang menjalar dan fenomena seperti-gelombang sebagaimana pembentukan pola organisasi diri yang lain seperti strip, heksagonal atau lebih banyak struktur ruwet seperti soliton disipatif (Anonim A, 2009).

Pada difusi gas, Peningkatan ketebalan membrane merintangi proses kecepatan difusi karena hal tersebut membuat gas memerlukan waktu lebih lama untuk melewati membrane tersebut. Klien yang mengalami edema pulmonar, infiltrasi pulmonar atau efusi pulmonar memiliki ketebalan membrane alveolar kapiler yang meningkat akan mengakibatkan proses difusi yang lambat, pertukaran gas pernapasan yang lambat dan menganggu proses pengiriman oksigen ke jaringan. Daerah permukaan membran dapat mengalami perubahan sebagai akibat suatu penyakit kronik, penyakit akut, atau proses pembedaha. Apabila alveoli yang berfungsi lebih sedikit maka darah permukaan menjadi berkurang (Volk dan Wheeler, 1988).

Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah. Beberapa contoh difusi:

1. Apabila kita teteskan minyak wangi dalam botol lalu ditutup, maka bau minyak wangi tersebut akan tersebar ke seluruh bagian botol. Apabila tutup botol dibuka, maka bau minyak wangi tersebut akan tersebar ke seluruh ruangan, meskipun tidak menggunakan kipas. Hal ini disebabkan karena terjadi proses difusi dari botol minyak wangi (konsentrasi tinggi) ke ruangan (konsentrasi rendah).

2. Apabila kita meneteskan tinta ke dalam segelas air, maka warna tinta tersebut akan menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam gelas (konsentrasi rendah) sehingga terjadi keseimbangan. Sebenarnya, selain terjadi pergerakan tinta, juga terjadi pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta (dari konsentrasi air tinggi ke konsentrasi air rendah). Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat disbanding dengan proses difusi (Volk dan Wheeler, 1988).

Metabolisme diartikan pertukaran zat antar suatu sel organisme secara keseluruhan dengan lingkungannya. Salahsatu aktivitas protoplasma yang penting adalah pembentukan sel baru dengan cara pembelahan. Sebelum sel melakukan pembelahan, maka protoplasma aktif mengumpulkan serta mensintesis karbohidrat, protein, lemak dan banyak lagi senyaawa organic kompleks yang merupakan bagian dari protoplasma dan dinding sel. Bahan dasar untuk sintesa adalah unsur-unsur anorganik yang diserap oleh akar dan gula yang dibentuk dari karbondioksida dan air dalam proses fotosintesa. Dengan demikian metabolism pada organisme multiseluler juga mencakup masalah penyerapan air serta senyawa-senyawa anorganik dari dalam tanah serta transport nutrien ke tempat sintesa (Campbell, 2002).

Sistem penyerapan serta transportasi nutrien sangat penting bagi tumbuhan maupun hewan. Pada tumbuhan maupun hewan yang belum memiliki struktur organisasi yang rumit, transport zat hara serta pertukaran zat dah hasil metabolisme cukup dari sel ke sel dengan menembus membrane plasma dan berlangsung baik aktif maupun pasif. Penyerapan atau transport pasif berlangsung anatar lain secara osmosa, sementara penyerapan secara aktif beerlangsung dengan menggunakan sumber energi hasil respirasi berupa ATP. Pada tumbuhan yang memiliki struktur otganisasi yang kompleks, diperlukan system transportasi khusus yaitu dengan adanya berkas pengangkutan terdiri dari xylem dan floem. Xylem berfungsi utuk mengangkut air serta zat hara dari akar ke tempat sintesa, dan floem berfungsi untuk mengedarkan hasil asimilasi ke seluruh bagian tumbiuhan yang memerlukan (Campbell, 2002).

Sitoplasma dibungkus oleh suatu selaput tipis yang disebut membrane plasma. Selaput ini merupakan membrane yang mampu mengatur secara selektif aliran cairan dari lingkungan ke suatu sel ke dalam sel dan sebaliknya. Proses difusi sendiri adalah pencampuran antara dua molekul yang berbeda konsentrasi yaitu dari tempat yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi rendah. Proses difusi juga terjadi pada sel organisme hidup tetapi anatar molekul yang berbeda konsentrasinya itu dipisahkan oleh membrane plasma yang mempunyai pori-pori (osmos). Dengan demikian osmosis adalah proses difusi pada organisme hidup dimana molekul yang berdisfusi harus menerobos pori-pori membrane plasma (Campbell, 2002).

Pada umumnya membrane pada organisme hidup bersifat semipermeable (selektif permeable) yang berarti hanya molekul-molekul tertentu yang dapat melewati. Cairan sel biasanya bersifat hipertonis (potensial air tinggi), dan cairan diluar sel bersifat hipotonis (potensial air rendah), sehingga air akan mengalir masuk ke dalam sel sampai kedua cairan isotonis (Campbell, 2002).

Apabila suatu sel diletakkan dalam larutan yang hipertonis terhadap sitoplasma maka air didalam sel akan berdisfusi keluar sehingga sitoplasma mengkerut dan dinding sel terlepas (plasmolysis). Apabila sel kemudian dimasukkan ke dalam cairan yang hipotonis maka air akan masuk ke dalam sel dan sitoplasma kembali mengembang (deplasmolisis) (Campbell, 2002).

BAB III

METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

- Erlemeyer

- Pipet tetes

3.1.2 Bahan

- Methylen Blue pekat

- Kristal CuSO4

- Akuades

3.2 Cara Kerja

- Dimasukkan air ke dalam dua erlemeyer.

- Diteteskan larutan metilen blue pada salah satu erlemeyer yang terisi air tadi.

- Dihitung waktunya pada saat penetesan dilakukan sampai metilen blue sudah benar-benar terlarut dalam air.

- Dimasukkan Kristal CuSO4 ke dalam erlemeyer yang satunya lagi.

- Dihitung waktunya pada saat dimasukkan Kristal CuSO4 sampai Kristal CuSO4 sudah benar-benar terlarut dalam air.

- Dicatat waktu yang diperlukan untuk masing-masing larutan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

Judul Tabel

Larutan Pewarna

Ulangan Percobaan

Waktu (menit)

Methylen Blue

1

47 : 17

Kristal CuSO4

1

59 : 21

4.2 Pembahasan

Pada percobaan difusi ini, waktu yang diperlukan untuk melarutkan Methylen Blue dengan air diperlukan waktu 47 menit 17 detik. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk melarutkan Kristal CuSO4 dengan air diperlukan waktu 59 menit 21 detik.

Waktu yang diperlukan untuk melarutkan Methylen blue dengan air lebih cepat daripada waktu yang diperlukan untuk melarutkan CuSO4 dengan air. Hal tersebut dikarenakan sifat zatnya. Air bersifat polar, Methylen blue bersifat polar, dan Kristal CuSO4 bersifat non polar. Sehingga larutan homogeny yaitu polar dan polar akan lebih cepat larut dibandingkan larutan heterogen yaitu polar dan non polar.

Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara. Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida. Difusi dan osmosis adalah termasuk transport pasif artinya transport yang tidak memerlukan energi (ATP) (Anonim A,2009).

Faktor yang mempengaruhi difusi diantanya adalah Ukuran partikel, ketebalan membran, luas suatu area, jarak, suhu, jumlah eryth/kadar Hb, perbedaan tekanan dan konsentrasi gas, waktu difusi, afinitas gas (Anonim A dan Anonim B, 2009).


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa ;

- Difusi adalah penvampuran antara dua molekul yang berbeda konsentrasi yaitu dari tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat yang konsentrasinya rendah.

- Faktor yang mempengaruhi difusi diantanya adalah Ukuran partikel, ketebalan membran, luas suatu area, jarak, suhu, jumlah eryth/kadar Hb, perbedaan tekanan dan konsentrasi gas, waktu difusi, afinitas gas.

- Proses difusi pada organisme hidup terjadi antara molekul yang berbeda konsentrasinya itu dipisahkan oleh membrane plasma yang mempunyai pori-pori (osmos). Jadi, osmosis adalah proses difusi pada organisme hidup dimana molekul yang berdisfusi harusa menerobos pori-pori membrane plasma.

5.1 Saran

- Harus lebih teliti ketika mengamati larutan tersebut sudah benar-benar terlarut.

- Larutan jangan diaduk tetapi dibiarkan saja terlarut sendiri.

- Pada saat mulai mencampurkannya, maka pada saat itulah stopwatch dijalankan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim A. 2009. Difusi. http://id.wikipedia.org/wiki/Difusi .25/11/2009

Anonim B. 2009. Difusi. http://id.wikipedia.org/wiki/DifusidanOsmosis. 23/11/2009

Campbell. 2002. Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta

Volk dan Wheeler. 1988. Mikrobiologi dasar. Erlangga: Jakarta

Comments Off

Sel Hewan dan tumbuhan


.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada awalnya sel digambarkan pada tahun 1665 oleh seorang ilmuwan Inggris Robert Hooke yang telah meneliti irisan tipis gabus melalui mikroskop yang dirancangnya sendiri. Kata sel berasal dari kata latin cellulae yang berarti kamar-kamar kecil. Anton Van Leeuwenhoek melakukan banyak pengamatan terhadap benda-benda dan jasad-jasad renik serta menunjukkan pertama kali pada dunia ada “kehidupan di dunia lain” yang belum pernah dilihat oleh manusia (Amiruddin, 1989).

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi (Campbell, 2002).

Dua orang ilmuwan dari Jerman yaitu Matt Lias Schleiden (ahli tumbuhan, 1804 – 1881) dan Theodor Schwann (ahli hewan, 1810 – 1882) menyimpulkan bahwa setiap makhluk hidup tersusun atas sel. Selanjutnya pada tahun 1885 seorang ilmuwan Jerman, Rudolf Virchow, mengamati bahwa sel dapat membelah diri dan membentuk sel-sel baru (Kimball, 1992).

1.2 Tujuan

- Untuk mengetahui perbedaan ciri pokok antara sel hewan dan sel tumbuhan.

- Untuk mengetahui bagian-bagian sel hewan.

- Untuk mengetahui bagian-bagian sel tumbuhan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Sel

Sel berasal dari kata 'cella' yang berarti ruangan berukuran kecil maka sel merupakan unit (kesatuan, zahrah) terkecil dari makhluk hidup, yang dapat melaksanakan kehidupan (Anonim A,2009).

Ada empat teori tentang sel, yaitu:

- unit struktural terkecil makhluk hidup (Schleiden & T. Schwann)

- unit fungsional terkecil makhluk hidup (Max Schultze)

- unit pertumbuhan terkecil makhluk hidup (Rudolf Virchow)

- unit hereditas terkecil makhluk hidup (Penemuan akhir abad XIX) (Anonim A,2009).

Sel merupakan unit terkecil tubuh makhluk hidup. Baik secara struktural maupun fungsional. Sel terdiri dari membran sel, sitoplasma, nukleus dan organel-organel lain yang masing-masing mempunyai fungsi khusus dan secara terpadu menyusun sistem yang kompak (Tim Biologi, 2004).

Setiap sel bergantung pada sel-sel yang lain untuk melakukan fungsi-fungsi yang tidak dapat dilakukan sendiri contohnya adalah sel saraf dengan cepat meneruskan sinar listrik ke dalam tubuh tetapi bergantung seluruhnya pada sel-sel darah merah untuk memberikan kepadanya oksigen yang amat diperlukannya. Meskipun tipe sel itu bermacam-macam, terdapat persamaan tertentu pada sifat-sifat bentuk dan fungsional yang lazim bagi kebanyakan sel (Kimball, 1992).

Pada umumnya sel itu bersifat mikroskopis, misalnya ovum dari bangsa burung dari beberapa alga. Besarnya dibatasi oleh membran. Suatu sel yang sangat aktif melakukan metabolisme tidak akan mempunyai volume yang besar. Dua bagian yang pokok dari sel adalah sitoplasma dan nukleus. Sitoplasma sebagai suatu zat cair yang kental yang berfungsi bagi sel, mitokondria, badan golgi, kloroplas, sentriol, glanula, dan pigmen (Amiruddin, 1989).

Bagain-bagian sel hewan dan fungsinya

- Membran Sel

Berfungsi untuk mengatur pertukaran zat, sebagai pelindung, tempat menerima rangsang.

- Nukleus

Berfungsi sebagai tempat pengendalian aktivitas sel, tempat AND yang berfungsi sebagai faktor keturunan.

- Retikulum Endoplasma

Berfungsi sebagai sintetis dan transportasi berbagai macam zat kimia.

- Kompleks Golgi

Berfungsi untuk merakit mikro molekul yang kaya karbohidrat.

- Ribosom

Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya sintesa protein.

- Mitokondria

Berfungsi sebagai tempat respirasi aerob.

- Lisosom

Berfungsi sebagai tempat mencerna bahan-bahan dari luar sel dan bahan yang tidak dipakai dari dalam sel.

- Badan Mikro

Berfungsi mengandung enzim katalase dan oksidasi disebut perolisisum, yang mengandung enzim untuk daun asam glioksiat disebut pada tumbuhan.

- Sentrosom

Berfungsi sebagai peran dalam pembelahan sel yaitu pada pergerakan kromatin.

- Sentrio

Berfungsi untuk mengontrol pembentukan benang-benang gelondong selama pembelahan sel (Campbell,2002).

Sel tumbuhan termasuk sel eukariotik. Sel eukariotik adalah sel yang memiliki membran inti (adapula yang menyebutnya sebagai selaput inti). Secara umum, sel tumbuhan memiliki struktur yang sama dengan sel hewan. Tetapi ada beberapa struktur yang secara eksklusif dimiliki tumbuhan, dan adapula struktur yang dimiliki hewan tetapi tidak dimiliki tumbuhan. Beberapa struktur eksklusif itu antara lain adalah:

- Plasmodesmata (tunggal: plasmodesma)

Merupakan pori-pori penghubung yang terletak pada dinding sel. Dengan adanya plasmodesmata, sel tumbuhan dapat berkomunikasi dengan sel lainnya. Selain berperan dalam komunikasi antar sel tumbuhan, plasmodesmata juga berperan dalam transport protein dan RNA duta dari sel ke sel lain.

- Plastida

Plastida dapat berdifferensiasi, salah satunya menjadi kloroplas. Kloroplas memiliki pigmen bernama klorofil, yang menyebabkan warna hijau. Dengan adanya kloroplas ini, tumbuhan mampu berfotosintesis.

- Dinding sel

Bila dilihat lewat mikroskop, sel tumbuhan akan tampak tersusun rapi dan memiliki bentuk tetap. Umumnya berbentuk segi enam. Berbeda dengan hewan, yang bentuknya tidak tetap. Hal ini dikarenakan sel tumbuhan memiliki dinding sel. Dinding sel tumbuhan tersusun dari selulosa, protein dan terkandung lignin (zat kayu).

- Vakuola yang besar

Vakuola pada sel tumbuhan besar. Sementara vakuola pada sel hewan cenderung kecil, bahkan tidak ada. Vakuola ini diselimuti oleh membran tonoplas. Vakuola ini berperan untuk menjaga turgor dan menyimpan cadangan makanan (Kimball,1992).

Selain itu, adapula organel yang dimiliki oleh sel hewan, tetapi tidak dimiliki oleh sel tumbuhan, yaitu sentriol. Sentriol berperan dalam pemisahan kromosom pada tahap anafase. (Anonim A,2009).

Perbedaan Dan Persamaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan

Sel Hewan

- tidak memiliki dinding sel

- tidak memiliki plastid

- memiliki lisosom

- memiliki sentrosom

- timbunan zat berupa lemak dan glikogen

- bentuk tidak tetap

- pada hewan tertentu memiliki vakuola, ukuran kecil, sedikit

Sel Tumbuhan

- memiliki dinding sel dan membran sel

- umumnya memiliki plastid

- tidak memiliki lisosom

- tidak memiliki sentrosom

- timbunan zat berupa pati

- bentuk tetap

- memiliki vakuola ukuran besar, banyak

Tumbuhan memiliki bagian-bagian sel yang membedakan dengan sel hewan. Ciri-ciri utama sel Tumbuhan yaitu adanya dinding sel (tersusun dari selulosa), vakuola yang besar, dan plastida. Sel tumbuhan tidak memiliki sentriol. Sedangkan sel hewan memiliki organel yang khas yaitu sentriol yang berfungsi pada saat pembelahan sel, selain itu pada sel hewan tidak memiliki dinding sel dan plastida, dan pada sel hewan vakuola yang dimilikinya berukuran kecil di banding dengan sel tumbuhan (Anonim A, 2009).

JARINGAN TUMBUHAN

Jaringan dalam biologi adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Sekumpulan jaringan akan membentuk organ. Cabang ilmu biologi yang mempelajari jaringan adalah histologi. Sedangkan cabang ilmu biologi yang mempelajari jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatologi. Jaringan tumbuhan dikategorikan menjadi tiga jaringan, yaitu :

- Jaringan epidermis

Jaringan epidermis Adalah jaringan yang melapisi daun dan bagian tumbuhan yang masih muda. jaringan paling luar yang membungkus tumbuhan.

- Jaringan pengangkut

Komponen utama jaringan pengangkut adalah xilem dan floem. Berperan dalam pengangkutan di dalam tubuh tumbuhan. Xilem atau pembuluh kayu adalah komponen utama pada jaringan pengangkut yang ada pada tumbuhan. Kata xilem diambil dari bahasa Yunani klasik xĂșlon yang berarti kayu. Xilem bertugas menyalurkan air dan mineral dari akar ke bagian atas tumbuhan yaitu daun. Sel xilem banyak mengandung lignin dan merupakan pembentuk bagian utama dari apa yang kita kenal sebagai kayu. Ada tiga faktor yang menyebabkan air dan mineral dapat naik dari akar ke daun, yaitu tekanan akar, kapilaritas, dan transpirasi. Floem atau pembuluh tapis adalah komponen utama pada jaringan pengangkut yang ada pada tumbuhan. Floem bertugas untuk mengedarkan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan.

- Jaringan penyokong

Berfungsi untuk melakukan fotosintesis, penyimpanan makanan, dan penyokong struktur. Jaringan penyokong meliputi tiga jaringan dasar, yaitu parenkim, kolenkim dan sklerenkim.

Parenkim :

Dinding primer tipis, tidak memiliki dinding sekunder; dapat berkembang menjadi jaringan tumbuhan yang lebih terspesialisasi.

Kolenkim :

Dinding primer yang tebal, bergabung untuk menyokong bagian tumbuhan yang sedang tumbuh.

Sklerenkim :

Dinding sekunder tebal, menyokong bagian tumbuhan yang tidak tumbuh.

(Anonim B,2009).


BAB III

METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1. Alat

- Kaca obyek

- Kaca penutup

- Silet

- Cotton bud

- Pipet tetes

- Mikroskop

3.1.2 Bahan

- Bawang merah (Allium cepa)

- Rhoeo discolor

- Mukosa mulut

- Methilen blue

3.2 Cara kerja

1. Pengamatan sel tumbuhan : Allium cepa dan rhoeo discolor.

- Dikupaslahselaput bawang merah.

- Diletakan selaput tersebut pada kaca obyek.

- Ditetesi dengan air bersih.

- Dilakukan hal yang sama kepada rhoeo discolor,tetapi diambil selaput permukaan bawah daun yang berwarna ungu.

- Ditutuplah dengan kaca penutup,perhatikan,jangan sampai terbentuk gelembung udara.

- Diamati selnya dan dikenali bagian-bagiannya (dinding sel,stoplasma,nucleus,kloroplas,dan stomata).

- Digambar dan disebutkan bagian-bagian yang terlihat.

2. Pengamatan sel hewan : Muklosa mulut.

- Disediakan kaca obyek yang bersih dan kemudian diteteskan air.

- Dikoreklah perlahan-lahan bagian dalam dari pipi saudara dengan menggunakan cotton bud.

- Disentuhkan sedikit material yang menempel pada cotton bud pada setetes air dikaca obyek.

- Ditetesi dengan mathylen blue dan ditutuplah kaca obyek dengan kaca penutup.

- Diamati obyek dengan menggunakan mikroskop dan dikenali bagian-bagiannya(membran sel,sitoplasma,nucleus).

- Digambar dan disebutkan bagian-bagian yang terlihat.


BAB IV

HASIL DAN PENGAMATAN

4.1. Hasil pengamatan

Gambar 1. Mukosa Mulut

Keterangan :

1. Membran sel

2. Nukleus

3. sitoplasma

Gambar 2. Rhoeo discolor

(Preparat : Penampang Melintang Daun )

Keterangan :

1. Nukleus

2. Dinding sel

3. Sitoplasma

4. Stomata

5. Klorofil

Klorofil

Gambar 3. Allium cepa (Umbi Lapis Bawang)

Kesimpulan :

1. Sitoplasma

2. Dinding sel

3. nukleus

4.2 Pembahasan

Pada obyek sel hewan, menggunakan preparat Mukosa Mulut. Dengan perbesaran 40 x 10 = 400x. Dari hasil pengamatan dibawah mikroskop terdapat 3 bagian sel hewan. Membran sel yaitu yang melindungi bagian dalam sel, Inti sel atau disebut nukleus yang gambarnya berupa titik ditengah, dan Sitoplasma bagian diantara membran dan nukleus.

Pada obyek sel tumbuhan, menggunakan 2 preparat. Preparat yang pertama yaitu umbi lapis daun bawang merah ( Allium cepa ). Dengan perbesaran 40 x 10 = 400x. Dari hasil pengamatan dibawah mikroskop terdapat 3 bagian sel tumbuhan. Sitoplasma, nukleus dan dinding sel. Sitoplasma yaitu bagian sebelah dalam dinding sel. Nuklues adalah yang berada di tengah tengah berupa titik.

Preparat yang kedua adalah ( Rhoeo discolor ). Dengan perbesaran 40 x 10 = 400x. Dari hasil pengamatan dibawah mikroskop terdapat 5 bagian sel tumbuhan yang ditemukan. Sitoplasma, Nukleus, dinding sel, stomata, serta klorofil. Pada preparat ini, ditemukan adanya stomata dan klorofil. Karena Rhoeo discolor merupakan tumbuhan hijau, memiliki daun. Sehingga terdapat klorofil dan stomata untuk berlangsungnya fotosintesis. Klorofil adalah zat hijau daun. Untuk membantu proses fotosintesis. Stomata adalah mulut daun. Pada Allium cepa tidak terdapat klorofil dan stomata. Karena bukan tumbuhan hijau, serta tidak memiliki daun. Sehingga tidak ditemukan stomata dan klorofil pada Allium cepa.

Dari hasil percobaan, didapat bahwa perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan yaitu, sel hewan memiliki membran sel, sedankan sel tumbuhan tidak. Sel tumbuhan memiliki dinding sel, sedangkan sel hewan tidak. Vakuola pada sel tumbuhan besar. Sedangkan vakuola pada sel hewan ada, tetapi kecil. Sel hewan tidak memiliki klorofil dan stomata, karena hewan tidak melakukan fotosintesis (Anonim A,2009).

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

- Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan adalah sel hewan memiliki membran sel, sedankan sel tumbuhan tidak. Sel tumbuhan memiliki dinding sel, sedangkan sel hewan tidak. Vakuola pada sel tumbuhan besar. Sedangkan vakuola pada sel hewan ada, tetapi kecil. Sel hewan tidak memiliki klorofil dan stomata, karena hewan tidak melakukan fotosintesis ( Anonim A, 2009).

- Bagain-bagian sel hewan yaitu diantaranya Membran Sel, Nukleus, Retikulum Endoplasma, Kompleks Golgi, Ribosom, Mitokondria, Lisosom, Badan Mikro, Sentrosom, Sentriol (Campbell,2002) .

- Bagian-bagian sel tumbuhan yaitu diantaranya Plasmodesmata (tunggal: plasmodesma), Plastida, Dinding sel, Vakuola yang besar, dan lain sebagainya (Campbell,2002).

5.2 Saran

- Harus benar-benar selaput yang paling tipis yang digunakan untuk diamati dibawah mikroskop.

- Jangan meneterkan metylen blue terlalu banyak.

- Jika kebanyakan metylen blue yang tertetesi, resepkan pada tisu.

- Perbesaran harus tepat, agar dapat mengamati bagian-bagian sel dengan jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim A. 2009. Sel hewan dan tumbuhan. http://id.wikipedia.org/wiki/Sel hewan dan tumbuhan. 27 November 2009.

Anonim B. 2009. Jaringan. http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan. 26 November 2009.

Amiruddin. 1989. Biologi. Erlangga : Jakarta

Campbell. 2002. Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta

Kimball . 1992. Biologi Universitas. Erlangga : Jakarta

Tim Biologi. 2004. Biologi. Andi : Yogya